Minggu, 09 Desember 2012

Perjalanan Haji 2011 Bagian 2

Alhamdulillah akhir nya bisa meneruskan cerita tentang perjalanan Haji saya dan rekan rekan.
Saat santai di pelataran Masjid Haram
Setelah sesampainya di Mekkah kami langsung menuju ke Masjid Haram untuk istirahat sejenak melepas lelah... sambil jalan mencari tempat untuk dapat sekedar duduk ato selonjoran susah nya karena emang pada saat itu kondisi Masjidil Haram udah sangat padat karena hari dimana yang di nantikan oleh para jamaah tinggal 2 hari lagi. akhirnya kami dapat tempat untuk melepaskan lelah.. 

Setelah melaksanakan Shalat Isya berjamaah kami memutuskan untuk jalan jalan menikmati malam sekitar Masjid Haram tersebut. Setelah berjalan-jalan sambil cari makanan khas indonesia yang lumayan agak banyak di sekitaran Masjid Haram pas saat itu, akhirnya kami kembali ke tempat semula untuk istirahat, sambil ngobrol-ngobrol masalah tentang hajian, kebetulan ada beberapa teman saya yang udah beberapa kali pergi hajian jadi mereka tau situasi nya, agar kami yang blum pernah melaksanakan haji tersebut tidak terlalu kaget lagi pada pelaksanaan nya...

Tak terasa malam semakin larut akhir obrolan kami di akhiri dengan datang nya adzan subuh... wuiiiihhh ga kerasa udah subuh lagi.. saking enak nya ngobrolin tentang tata cara hajian ma temen temen waktu ga kerasa tau tau dah subuh lagi deh.... secara bergiliran kami mengambil ari wudhu yang letak nya lumayan agak jauh antri lagi... padahal tempat wudhu di Masjidil Haram ga sedikit looh.. ribuan mungkin kran kran untuk air wudhu tapi tetap ajah antri karena jumlah jamaah nya lebih banyak. setelah semuanya mengambil wudhu, kami kembali duduk duduk menunggu solat berjamaah.

Perjalanan Menuju Mina
Perjalanan Menuju Mina
Setelah melaksanakan shalat subuh kami semua berserta jamaah yang lain bergegas menuju mina, berbondong bondong kami berjalan  sejauh kurang lebih 2 km, pertamanya seh ragu apakah saya kuat, saya kan ga pernah jalan sejauh itu, namun karena tekad di tambah banyak orang di jalan membuat jarak yang begitu jauh ga kerasa.

Dalam perjalanan menuju mina dengan berjalan kaki, hati saya serasa bergetar karena tanpa ada komando dari siapa pun kalimah talbiyah terdengar secara bersama sama jamaah lain yang sangat menggema ketika kami berjalan menelusuri terowongan... Allahu Akbar hati ini serasa takjub mendengar semuanya, smua jamaah begitu bersemangat bertalbiyah sambil berjalan dan tanpa memikirkan betapa jauh nya jarak yang akan mereka tempuh.

Setelah sekiar 3 jam kami berjalan akhir kami sampai juga di kawasan mina di mana jamaah jamaah dari indonesia udah berada disana sebelum nya, karena jamaan dari indonesia kebanyakan menaiki bis, dan pemberangkatanya pun kebanyakan pada malam sebelum nya. Kami pun akhir nya memutuskan untuk beristirahat di Masjid Al-Khaif di sekitar mina, di dalam masjid sudah banyak orang yang beristirahat untuk melepaskan lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan sangat jauh, kami pun beristirahat sambil menunggu shalat Dzuhur untuk berjamaah. setelah melaksanakan shalat dzuhur kami putuskan untuk meninggalkan masjid Al-Khaif tersebut untuk mencari tempat yang cocok untuk beristirahat, akhirnya saya memutuskan untuk menemui istri saya yang kebetulan pada waktu itu dia sedang bekerja di rumah sakit di mina, setelah saya telepon akhir nya kami berlima memutuskan untuk ke tempat istri saya, Alhamdulillah sesampai nya di pelataran Rumah Sakit tempat istri saya bekerja banyak tempat kosong untuk dapat di jadikan tempat istirahat, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sana. (tiduuuurrrr untuk persiapan perjalanan besok yang lebih jauuuuuh)

Perjalanan Menuju Arafah
Perjalanan Menuju Arafah
Pada hari berikutnya Tanggal 9 Dzulhijah, setelah melaksanakan Shalat Subuh berjamaah, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Arafah, kami pergi setelah shalat subuh karena kami harus sampai di Arafah sebelun dzuhur, karena perjalanan Mina ke Arafah menempuh jarak kurang lebih 10 sampai 12 Km.

Saat Istirahat Dalam Perjalanan Arafah
Dalam perjalanan menuju Arafah sperti biasa kalimah talbiyah selalu terdengar dimana mana, kami berlima berjalan bersama para jamaah yang lain, semua jamaah tidak menampakkan muka murung ato kelelahan walaupun jarak yang di tempuh tidah lah dekat. di tengah perjalanan kami menemukan banyak sekali orang berlomba lomba untuk memberikan sedekah walopun hanya sebatas memberikan minuman mineral kepada para jamaah. dan tak sedikit dari perusahaan juga untuk membagikan makanan ataupun payung dan tenda bagi jamaah jamaah seperti kami yang harus tidur di luar hotel. Di sela sela perjalanan kami, kami sempatkan untuk sarapan yang banyak di sediakan oleh para jamaah lain dengan gratis.

Setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh akhirnya kami tiba di Arafah sebelum waktu Dzuhur, kemudian kami berlima segera mencari tempat untuk dapat mendirikan tenda selama kami di Arafah, akhir nya kami dapat melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, sambil menunggu waktu Dzuhur kami habiskan untuk melepas lelah dengan rebahan rebahan.

Setelah melaksanakan Sholat Dzuhur yang di jama' dengan Ashar kami melaksanakan amalan amalan yang biasa di lakukan para jamaah lain nya dan juga berdoa semampunya kami, karena pada hari itu, Allah senang sekali jika kita berdoa kepada-Nya. Ia mengabulkan semua doa mereka disana, sebagaimana tersebut dalam hadist yang lain :
Saat di Arafah Menunggu Waktu Dzuhur
Sabda Rasullullah saw : “Diantara berbagai jenis dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan melakukan wukuf di Arafah” (disinadkan oleh Ja’far bin Muhammad sampai kepada Rasulullah saw).

Bahkan Allah murka ketika manusia tidak yakin dosanya diampunkan di Arafah, seperti sabda Rasullullah saw : “Yang paling besar dosanya diantara manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arafah lalu berprasangka bahwa Allah tidak memberinya ampun” (Al Khatib dalam kitab Al-Muttafaq wal Muftaraq)

Saat Menuju Muzdalifah
 Perjalanan Menuju Muzdalifah
Setelah Melempar Jumroh Aqabah

Saat Melempar Jumroh Pada Hari Tasyrik
Setelah menjelang senja kami pun bersiap siap kembali untuk melanjutkan perjalan kami menuju Muzdalifah untuk mabit atau bermalam dari tengah malam hingga terbitnya fajar. Kegiatan yang di laksanakan selama mabit di Muzdalifah kami dan semua jamaah adalah mengumpulkan batu kerikil sebanyak 49 buah karena kami ngambil nafar awal, (7 (tujuh) batu untuk melontar jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah). 21 batu (11 Dzulhijah) untuk melontar tiga jumrah, yaitu jumrah ûlâ, wusthâ dan aqabah. 21 batu (12 Dzulhijjah) untuk melontar tiga jumrah)berdzikir dan berdoa, di Muzdalifah sendiri terdapat monumen yang bernama Masy'ar Al Haram dimana para jamaah dapat berdoa dan berzikir disini.


Setelah Mabit di Muzdalifah maka setelah melaksanakan Sholat Subuh kami langsung menuju Mina untuk melaksanakan melempar Jumrah Aqabah pada hari Nahar (10 Dzulhijjah). Dan kalimah talbiyah dihentikan ketika mulai melempar Jumrah Aqabah. Sedangkan waktu yang utama untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyrîq setelah waktu Dzuhur hingga waktu fajar. Akan tetapi waktu pagi lebih baik berhubung menjaga keselamatan lebih penting dari pada hanya mengejar pahala sunnah.



Tawâf Ifâdhah
Sesudah melontar Jumrah Aqabah kemudian kami menuju Mekah untuk melakukan thawâf Ifâdhah dilanjutkan dengan saî. Setelah itu barulah kami ber-tahallul dengan mencukur rambut atau bergunting.  Dengan tahallul ini maka halal kembali yang tadinya dilarang kecuali berhubungan badan, dan boleh menggunakan kembali pakaian biasa.

Mabît (bermalam) Di Mina
Setelah melaksanakan tahallul kemudian kami kembali ke mina untuk mabit, karena Mabît di Mina hukumnya wajib menurut pendapat mayoritas ulama dan bagi yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan syara maka diharuskan membayar Dam. Mahdzab asy-Syafi’i sendiri mengharuskan mabît di seluruh malamnya. Dikecualikan bagi orang mempunyai udzur yang dibolehkan syara boleh meninggalkan mabît tanpa membayar dam. Pada besok nya tanggal 11 Dzulhijjah jamaah haji melempar ketiga jumrah yang dimulai dari jumrah ûlâ, kemudian jumrah wusthâ dan terakhir jumrah aqabah. Masing-masing melempar dengan tujuh batu. Setiap selesai melempar jumrah ûlâ dan wusthâ disunahkan berdoa namun setelah lemparan jumrah aqabah tidak disunahkan berdoa. hal ini kami lakukan sama dengan tanggal 12 Dzulhijjah.

Dengan berakhir nya melepar Jumrah ini maka selesailah serangkaian kegiatan selama perjalanan haji kami tinggal menunggu melaksanakan Thawaf Wadâ sebelum kami kembali pulang ke tempat kerja kami.


Itula Kisah Perjalanan Haji kami berlima yang sangat sangat mengesankan bagi kami. dan kami selalu berdoa untuk dapat kembali melaksanakan nya... rasa lelah telah terbayarkan dengan semuanya....

Yaa... Allah kami berharap untuk dapat kembali menjadi Tamu Di Rumah mu Yaa Allah... Amiiiiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar